Djawanews.com - Grup Barito Pacific terus memperluas bisnis ke pasar regional, tetapi Indonesia tetap menjadi tujuan utama belanja modalnya. Dalam lima tahun terakhir, Investasi Barito Pacific digelontorkan sekitar US$5 miliar. Sekitar 90% dari jumlah tersebut dialokasikan di Indonesia.
Wakil Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk, Rudy Suparman mengatakan ekspansi ke luar negeri bertujuan memperbesar skala usaha dan membuka sumber pendapatan. Menurutnya, langkah itu juga diarahkan untuk memperkuat basis industri grup di dalam negeri.
Aset Regional Dukung Bisnis di Indonesia, Investasi Grup Barito Pacific Dipertahankan
Salah satu bagian dari strategi ekspansi Barito Pacific adalah kepemilikan aset Aster di Singapura melalui Chandra Asri Group. Menurut Rudy, aset tersebut dapat membantu memasok produk petroleum yang dibutuhkan pasar Indonesia, termasuk bensin, bahan bakar jet, gas oil, dan bitumen.
Rudy menjelaskan bahwa pendapatan, keahlian, akses pasar, serta kapasitas pendanaan yang diperoleh dari ekspansi regional tetap berada dalam kendali grup dan masuk ke laporan keuangan di Indonesia. Dengan demikian, perluasan usaha di luar negeri juga ditujukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis domestik.
Di Indonesia, Chandra Asri Group sedang membangun pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) dengan nilai investasi lebih dari US$800 juta. Hingga pertengahan 2026, progres konstruksinya telah mencapai 72%, dengan target mulai beroperasi pada 2027.
Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku kimia strategis. Pengembangannya juga mendapat dukungan investasi dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority.
Energi Terbarukan Masuk Fokus Investasi Barito Pacific
Selain petrokimia, investasi Barito Pacific di Indonesia mencakup energi terbarukan melalui PT Barito Renewables Energy Tbk. Perusahaan tersebut mengoperasikan pembangkit panas bumi dan tenaga angin dengan total kapasitas terpasang sekitar 1 gigawatt.
Dari jumlah itu, kapasitas lapangan panas bumi yang dioperasikan Barito Renewables mencapai 926 megawatt. Grup terus meningkatkan kapasitas pembangkit di Salak, Darajat, dan Wayang Windu, dengan sasaran kapasitas panas bumi melampaui 1 gigawatt pada akhir 2026.
Barito Pacific juga memiliki bisnis infrastruktur kelistrikan melalui pembangkit Jawa 9 dan Jawa 10. Masing-masing berkapasitas 1.000 megawatt dan dijalankan bersama Indonesia Power.
Alokasi 90% belanja modal di Indonesia menunjukkan bahwa ekspansi regional Barito Pacific berjalan bersamaan dengan pembangunan proyek domestik. Petrokimia, energi terbarukan, dan kelistrikan tetap menjadi bagian penting dari investasi grup di dalam negeri.
Demikian informasi seputar perkembangan investasi Barito Pacific. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Djawanews.com.